TL;DR
Jurnal penyesuaian dibuat di akhir periode akuntansi untuk menyesuaikan saldo akun agar mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya. Ada tujuh jenis akun yang umum disesuaikan: perlengkapan, penyusutan aset tetap, beban dibayar dimuka, pendapatan diterima dimuka, beban yang masih harus dibayar, pendapatan yang masih harus diterima, dan piutang tak tertagih. Langkah dasarnya: susun neraca saldo, identifikasi akun yang perlu disesuaikan, hitung selisihnya, lalu catat entri debit dan kredit yang sesuai.
Tanpa jurnal penyesuaian, laporan keuangan yang Anda siapkan di akhir bulan atau akhir tahun tidak akan akurat. Beban yang sudah terjadi bisa belum tercatat, pendapatan yang belum diperoleh bisa sudah dihitung sebagai milik perusahaan. Hasilnya, laba atau rugi yang tersaji jauh dari kondisi nyata.
Jurnal penyesuaian adalah catatan akuntansi yang dibuat pada akhir periode untuk memperbaiki saldo akun sebelum laporan keuangan disusun. Ini bukan koreksi atas kesalahan pencatatan, melainkan bagian normal dari siklus akuntansi yang memastikan prinsip matching dan accrual basis diterapkan dengan benar.
Berikut cara membuat jurnal penyesuaian dari awal, lengkap dengan jenis akun yang perlu disesuaikan dan contoh perhitungannya.
Apa Itu Jurnal Penyesuaian dan Mengapa Perlu Dibuat
Dalam akuntansi berbasis akrual, transaksi dicatat saat terjadi, bukan saat uang berpindah tangan. Ini berarti ada jeda antara waktu pencatatan dan waktu pengakuan beban atau pendapatan yang sebenarnya. Jurnal penyesuaian menutup jeda itu.
Contoh sederhana: perusahaan membayar sewa kantor Rp 12.000.000 untuk satu tahun penuh di bulan Januari. Secara kas, transaksi sudah selesai. Tapi secara akuntansi, setiap bulan hanya Rp 1.000.000 yang boleh diakui sebagai beban sewa. Tanpa jurnal penyesuaian, saldo beban sewa di neraca akan salah sepanjang tahun.
Menurut Binus University Accounting, jurnal penyesuaian dibagi dua kelompok besar: deferral (penangguhan) untuk transaksi yang sudah dicatat tapi belum sepenuhnya menjadi beban atau pendapatan, dan accrual (akrual) untuk beban atau pendapatan yang sudah terjadi tapi belum dicatat sama sekali.
Langkah-Langkah Membuat Jurnal Penyesuaian
Prosesnya tidak serumit yang dibayangkan. Ada empat langkah yang perlu diikuti secara berurutan.
1. Susun Neraca Saldo Sebelum Penyesuaian
Langkah pertama adalah mencetak atau menyusun neraca saldo (trial balance) dari buku besar. Neraca saldo berisi semua akun beserta saldonya pada akhir periode. Dari sinilah Anda mengidentifikasi akun mana yang saldonya belum mencerminkan kondisi sesungguhnya.
2. Identifikasi Akun yang Perlu Disesuaikan
Periksa setiap akun satu per satu. Tanyakan: apakah saldo akun ini sudah benar per tanggal akhir periode? Akun yang paling sering membutuhkan penyesuaian adalah beban dibayar dimuka, pendapatan diterima dimuka, akun perlengkapan, aset tetap, serta beban dan pendapatan yang masih belum tercatat.
3. Hitung Selisih yang Perlu Disesuaikan
Setelah menemukan akun yang perlu disesuaikan, hitung berapa jumlah yang harus dipindahkan atau diakui. Untuk beban dibayar dimuka, hitung porsi yang sudah terpakai hingga tanggal penyesuaian. Untuk penyusutan, gunakan metode yang sudah ditetapkan perusahaan. Pastikan angka yang Anda pakai konsisten dengan kebijakan akuntansi yang berlaku.
4. Catat Entri Debit dan Kredit
Buat ayat jurnal penyesuaian dengan mendebit satu akun dan mengkredit akun pasangannya. Setiap entri harus seimbang: total debit sama dengan total kredit. Setelah semua penyesuaian dibuat, posting ke buku besar dan susun neraca saldo setelah penyesuaian.
7 Jenis Akun Jurnal Penyesuaian Beserta Contohnya
Berdasarkan Detik Finance, ada tujuh jenis akun yang paling sering muncul dalam jurnal penyesuaian. Masing-masing punya pola pencatatan yang berbeda.
1. Perlengkapan
Perlengkapan yang dibeli dicatat sebagai aset. Di akhir periode, hitung perlengkapan yang tersisa secara fisik. Selisih antara saldo awal dan stok akhir adalah perlengkapan yang sudah terpakai dan harus diakui sebagai beban.
Contoh: Saldo perlengkapan di neraca Rp 800.000. Setelah dihitung fisik, tersisa Rp 100.000. Berarti yang terpakai Rp 700.000.
- Debit: Beban Perlengkapan Rp 700.000
- Kredit: Perlengkapan Rp 700.000
2. Penyusutan Aset Tetap
Aset tetap seperti kendaraan, peralatan, atau gedung nilainya berkurang setiap tahun. Penurunan nilai ini dicatat sebagai beban penyusutan. Akun pasangannya bukan aset tetap itu sendiri, melainkan akun akumulasi penyusutan yang berfungsi sebagai pengurang nilai aset di neraca.
Contoh: Peralatan senilai Rp 12.000.000 disusutkan 10% per tahun. Untuk 8 bulan, beban penyusutannya Rp 800.000.
- Debit: Beban Penyusutan Peralatan Rp 800.000
- Kredit: Akumulasi Penyusutan Peralatan Rp 800.000
3. Beban Dibayar Dimuka
Ketika perusahaan membayar biaya di muka seperti sewa atau asuransi, jumlah itu dicatat sebagai aset. Di akhir periode, bagian yang sudah terpakai dipindahkan ke akun beban.
Contoh: Sewa dibayar dimuka Rp 6.000.000 untuk satu tahun mulai 1 Maret. Per 31 Desember (10 bulan sudah berjalan), beban yang diakui Rp 5.000.000.
- Debit: Beban Sewa Rp 5.000.000
- Kredit: Sewa Dibayar Dimuka Rp 5.000.000
4. Pendapatan Diterima Dimuka
Saat perusahaan menerima uang sebelum jasa diselesaikan, itu dicatat sebagai kewajiban karena perusahaan masih berutang layanan. Di akhir periode, bagian yang sudah diselesaikan diakui sebagai pendapatan.
Contoh: Pendapatan sewa diterima dimuka Rp 24.000.000 untuk 12 bulan. Setelah 3 bulan berjalan, Rp 6.000.000 boleh diakui sebagai pendapatan.
- Debit: Pendapatan Diterima Dimuka Rp 6.000.000
- Kredit: Pendapatan Sewa Rp 6.000.000
5. Beban yang Masih Harus Dibayar
Ini adalah beban yang sudah terjadi tapi belum dibayar dan belum dicatat. Contoh paling umum adalah gaji karyawan yang terutang di akhir periode karena tanggal gajian jatuh di bulan berikutnya.
Contoh: Empat karyawan digaji Rp 8.000.000 per bulan. Per 31 Desember, masih ada Rp 2.000.000 gaji yang belum dibayarkan.
- Debit: Beban Gaji Rp 2.000.000
- Kredit: Utang Gaji Rp 2.000.000
6. Pendapatan yang Masih Harus Diterima
Kebalikan dari beban akrual: pendapatan yang sudah diperoleh tapi uangnya belum masuk. Jasa sudah selesai dikerjakan, tapi klien belum membayar tagihan.
Contoh: Perusahaan jasa menyelesaikan pekerjaan senilai Rp 2.500.000 pada 13 Desember, tapi belum menerima pembayaran per 31 Desember.
- Debit: Piutang Pendapatan Rp 2.500.000
- Kredit: Pendapatan Jasa Rp 2.500.000
7. Piutang Tak Tertagih
Tidak semua piutang bisa ditagih. Di akhir periode, perusahaan mengestimasi berapa persen piutang yang kemungkinan tidak akan terbayar, lalu mencatatnya sebagai beban dan penyisihan.
Contoh: Total piutang usaha Rp 9.000.000. Perusahaan memperkirakan 5% tidak akan tertagih, sehingga cadangan kerugian piutang Rp 450.000.
- Debit: Beban Kerugian Piutang Rp 450.000
- Kredit: Cadangan Kerugian Piutang Rp 450.000
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Jurnal Penyesuaian
Ada beberapa kekeliruan yang sering muncul, terutama bagi yang baru belajar akuntansi.
Pertama, salah menghitung periode yang sudah berjalan. Misalnya, sewa dibayar mulai 1 Maret dan penyesuaian dilakukan 31 Desember. Periodenya 10 bulan, bukan 9. Hitung dari tanggal mulai hingga tanggal penyesuaian, inklusif.
Kedua, menggunakan akun yang salah. Untuk penyusutan, akun kreditnya adalah akumulasi penyusutan, bukan aset tetap langsung. Jika Anda langsung mengkredit akun aset tetap, nilai tercatat aset tidak bisa dibedakan antara harga perolehan dan nilai bukunya.
Ketiga, lupa membalik entri untuk beban dan pendapatan akrual di awal periode berikutnya. Menurut Mekari Jurnal, beberapa jenis jurnal penyesuaian perlu diikuti dengan jurnal pembalik di periode berikutnya agar tidak terjadi pencatatan ganda saat transaksi aktualnya terealisasi.
Keempat, tidak konsisten antara metode pencatatan awal dan metode penyesuaian. Beban dibayar dimuka bisa dicatat awalnya sebagai aset atau langsung sebagai beban, dan metodenya menentukan bagaimana penyesuaiannya dilakukan. Pastikan metode awal dicatat dan diikuti konsisten sepanjang periode.
Cara Buat Jurnal Penyesuaian Lebih Efisien dengan Software Akuntansi
Secara manual, membuat jurnal penyesuaian bisa memakan waktu, apalagi jika transaksi perusahaan sudah cukup banyak. Software akuntansi modern umumnya sudah memiliki fitur penyesuaian otomatis untuk penyusutan dan pembagian periode beban atau pendapatan, sehingga risiko salah hitung bisa dikurangi.
Namun, pemahaman dasarnya tetap perlu. Tanpa mengerti logika di balik setiap penyesuaian, Anda tidak akan tahu apakah angka yang dihasilkan software sudah benar atau perlu dikoreksi. School of Information Systems Binus menekankan bahwa jurnal penyesuaian adalah bagian dari penerapan prinsip matching principle, yaitu mencocokkan beban dengan pendapatan pada periode yang sama, prinsip yang menjadi fondasi akuntansi akrual.
Setelah semua penyesuaian selesai dan sudah diverifikasi, barulah neraca saldo setelah penyesuaian bisa dipakai sebagai dasar untuk menyusun laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan neraca. Proses ini memastikan bahwa cara buat jurnal penyesuaian yang Anda lakukan benar-benar berdampak pada laporan keuangan yang akurat dan dapat dipercaya.
